Assalamualaikum :)
Teman- teman kali ini saya akan membagikan kisah tentang Salman Al-Farisi. Cerita yang membuat saya kagum kepada beliau. Yuk langsung aja yaa pasti pada penasaran, hehe.
Sebuah kisah cinta menarik tercatat dalam sejarah hidup seorang shahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi. Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah seorang pemuda dari Persia. Dia adalah mantan budak di Isfahan, sebuah daerah di Persia. Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang spesial. Dia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekkah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin dalam perang Khandaq.
Kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu terjadi ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin hijrah menuju kota Madinah. Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita tersebut. Namun ia tak berani melamarnya. Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah. Bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah? Bagaimana tradisi Anshar saat mengkhitbah wanita? Demikian yang dipikirkan Salman. Ia tak tahu menahu mengenai budaya Arab. Tentu saja tak bisa sembarangan tiba-tiba datang mengkhitbah wanita tanpa persiapan matang.
Teman- teman kali ini saya akan membagikan kisah tentang Salman Al-Farisi. Cerita yang membuat saya kagum kepada beliau. Yuk langsung aja yaa pasti pada penasaran, hehe.
Sebuah kisah cinta menarik tercatat dalam sejarah hidup seorang shahabat Rasulullah, Salman Al-Farisi. Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah seorang pemuda dari Persia. Dia adalah mantan budak di Isfahan, sebuah daerah di Persia. Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu adalah sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam yang spesial. Dia terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekkah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin dalam perang Khandaq.
Kisah cinta Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu terjadi ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin hijrah menuju kota Madinah. Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menyukai seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Maka dia pun memantapkan niatnya untuk melamar wanita tersebut. Namun ia tak berani melamarnya. Sebagai seorang imigran, ia merasa asing dengan tempat tinggalnya, Madinah. Bagaimana adat melamar wanita di kalangan masyarakat Madinah? Bagaimana tradisi Anshar saat mengkhitbah wanita? Demikian yang dipikirkan Salman. Ia tak tahu menahu mengenai budaya Arab. Tentu saja tak bisa sembarangan tiba-tiba datang mengkhitbah wanita tanpa persiapan matang.
Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu pun kemudian mendatangi seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah, yaitu Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Ia bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita impiannya. Mendengar cerita sahabatnya tersebut, Abu Darda’ Radhiallahu’anhu pun begitu girang.
Tak ada perasaan ragu, canggung, atau bahkan menolak dalam diri seorang Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Inilah kesempatan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu untuk membantu saudara seimannya.
Tak ada perasaan ragu, canggung, atau bahkan menolak dalam diri seorang Abu Darda’ Radhiallahu’anhu. Inilah kesempatan Abu Darda’ Radhiallahu’anhu untuk membantu saudara seimannya.
Setelah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu, Salman pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda’. Keduanya begitu gembira. Setoiba di rumah wanita shalehah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah. “Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga) nya,” ujar Abu Darda’ menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih. “Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri anda,” lanjut Abu Darda’ kepada ayah si wanita, menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan
dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan
berkeinginan melamar putrinya. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima
shabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami
jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita. Meski yang datang adalah seorang sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putri. “Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami”, ujarnya kepada Abu Darda’ Radhiallahu’anhu dan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu.
Kemudian
ibunya menanyakan kepada putrinya mengenai perihal lamaran dari Salman
Al- Farisi. Dan ternyata teman, taukah kalian bahwa si wanita tersebut
justru lebih memilih Abu Darda' untuk menjadi calon suaminya. Jika seperti pria pada umumnya, maka hati Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu pasti hancur berkeping – keping. Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Namun bagaimanakah dengan Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu? Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu merupakan pria sholih, taat, dan seorang mulia dari kalangan sahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ketegaran hati yang luar biasa ia justru menjawab, “Allahu Akbar!”, seru Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu girang.
Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu.
Ia begitu faham bahwa cinta, betapa pun besarnya, kepada seorang wanita
tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran
diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta
menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti
persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ Radhiallahu’anhu telah dipersaudarakan oleh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.
Nah
teman-teman dari kisah cinta Salman Al Farisi kita telah belajar bahwa
sebesar apapun kita mencintai seseorang tidak serta merta kita mempunyai hak untuk harus
memilikinya. Kembali lagi bahwa Allah yang mengatur segala urusan. Allah
yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk umat-Nya. :) Dan Salman
Al-Farisi pun masih bersahabat baik dengan Abu Darda' bahkan Salman justru
menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya.
Subhanallah betapa hebatnya Salman Al-Farisi dengan kelapangan hatinya.
Semoga kita bisa meneladani sosok Salman Al Farisi Radhiallahu’anhu dan berdoa agar kelak berjumpa dengannya beserta Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam di dalam surga-Nya yang tertinggi. aamiin :)



